Suara klakson tiada hentinya berbunyi—ikut memenuhi suara bising di kepala. Manusia-manusia bodoh ini tak ada empati sedikit pun. Kalau mereka mampu berpikir, petugas medis pun juga tak mau berada di sini. “Berisik!” batinku.
Hari ini pak Gofur tak ada belas kasih sama sekali. Makian selalu keluar dari mulutnya yang berbau samsu. Sebagai pengemis perhatian dan materinya, aku hanya bisa memejamkan mata—menguatkan diri dari bau mulutnya yang berisi sampah serapah itu.
Dua jam sebelum makian itu, berkas yang sudah kusiapkan untuk presentasi hari ini lupa kubawa. Mau tak mau aku harus kembali lagi ke kos—mengambilnya. Untungnya aku masih mampu ke kantor tepat waktu. Sialnya berkas itu bukan untuk presentasi hari ini. Maka kumaklumi aroma samsu pak Gofur di depan wajahku. Kupersilakan masuk tanpa penjagaan ketat bulu hidung.
Dua jam sebelum pagi itu, Real Madrid bertandang ke Anfield dalam laga lanjutan Liga Champions. Mbappe bermain buruk sekali. Tidak ada serasi-serasinya dengan Vinicius. Keduanya tak mampu bekerja sama. Alih-alih membantu serangan, Jude Bellingham malah sibuk menyulut api dengan pemain lawan. Liverpool menang bukan karena mereka bermain baik. Tapi karena Real Madrid sedang tak mampu bermain bola. Usai pertandingan Xabi justru bertemu dengan Florian Wirtz dan Jeremie Frimpong. Ia tak malu akan kekalahannya. Ia justru malu kalau tak menyapa mantan anak asuhnya. "Cih, sia-sia begadang." Terpaksa kutidur setelah subuh dengan mood sangat buruk.
Dua jam sebelum pertandingan itu, kududuk di depan Indomart—dengan Golda di tangan kanan—dan menatap ke arah jalanan lengang. Hari sudah berganti, tepat setelah aku membuka Golda. Belum sempat kuminum, tiba-tiba seorang pria menyenggol Goldaku. Cairan itu tumpah mengenai kerah bajuku. Kupejamkan mata—menguatkan diri dari cairan kental dan dingin yang membasahi leher. Kupikir pria itu tak sengaja, karena memang sedang cek-cok dengan kekasihnya. Tetapi, alih-alih meminta maaf, ia langsung menyelonong begitu saja—meninggalkan kekasihnya yang masih rewel di sampingku. “Berisik!” batinku.
*
Kulihat bulan sedang indah-indahnya. Seolah-olah bersolek demi menghibur diriku—yang bernasib sial hari ini. Entah harus senang atau malu, aku tak tau. Aku hanya bisa menghela nafas, berharap hari ini segera berakhir.
Kucium aroma jasmine di bawah lampu merah, di baris kedua sebelum zebra cross. Ia mengantri di kananku—seorang perempuan mengendarai motor Scoopy berwarna hitam. Kupersilakan aroma itu masuk tanpa penjagaan ketat bulu hidung—menghempaskan sisa-sisa samsu pak Gofur.
Kunikmati kesempatan itu. Rasanya seperti berada di taman yang penuh dengan jasmine. Rasanya seperti sedang memeluk perempuan itu. Seolah-olah ia berbisik, “Tak apa. Aku ada di sini kok”—ahh, suasana ini begitu nyaman dan lembut. Wangi dan sejuk. Terasa seperti nyata.
Suara klakson tiada hentinya berbunyi. Kumembelalakkan mata, menyudahi imajinasi. Ttt—tapi. Kenapa perempuan ini ada dalam pelukanku. Kkk—kenapa aku berdiri di tengah jalan dan sedang memeluk perempuan ini—yang sedang duduk di motornya. Dasar bodoh, makiku pada diri sendiri.
Segera perempuan itu melepaskan diri dan menyemburkan botol minumnya—yang berisi susu—ke arah wajahku. Kental dan dingin, seolah susu itu baru keluar dari kulkas. Perempuan itu menyelonong begitu saja. Alih-alih malu, kulambaikan tangan dan mengucapkan salam “hati-hati di jalan, ya”—ke arahnya.
Kulihat lagi bulan di langit yang sedang indah-indahnya. Seolah-olah bersolek demi menghibur diriku. Tak perlu bertanya soal rasa malu, karena jawabannya sangat jelas—bahwa memang aku malu.
Ttttiiiiiiiiiiiiiiiinnnnn—suara klakson tiada hentinya berbunyi. “Jalan, anjing!”—teriak seorang perempuan yang ternyata pacar dari pria yang menumpahkan Golda semalam, yang mengenakan baju Real Madrid, dari arah belakang.
