-->

Sketsa Batin

Tidak ada komentar

Sudah belasan kali aku menonton Kimi no Na wa, tapi selalu mengalami hal yang sama—perasaan sesak, hati yang sedih, iman yang tiba-tiba meningkat, dan hidup yang terasa aneh. Apa jangan-jangan film ini memantik ingatan leluhurku—merecall jiwa mereka dan menstimulasikan ingatan-ingatan ke dalam pikiranku. Pesan apa yang mereka coba katakan kepadaku. Apakah sebuah meteor akan jatuh ke kotaku—sebagaimana Itomori. Atau sesuatu yang lebih kompleks, seperti: "Jauhkan kami dari Neraka-Nya!"


Sketsa Batin

Aku mempercayai teori Collective Unconscious milik Jung—bahwa bayi tidak lahir seperti sebuah kanvas putih. Ada sebuah sketsa yang sudah dibentuk oleh leluhur-leluhur manusia. Dan sketsa itu selalu berkembang pada setiap keturunan mereka yang lahir. Keturunan terakhir—seharusnya—akan mendapatkan sketsa yang sempurna. Tetapi tak semudah itu. Sketsa yang diberikan oleh leluhur bukanlah sebuah hadiah yang didapatkan dengan sia-sia. Butuh sebuah tindakan untuk memantik supaya sketsa itu muncul pada sebuah kanvas. Lalu tindakan seperti apa yang dapat memantik sketsa itu agar 'eksis'?

Dalam kasus Mitsuha, ia dapat bertukar tubuh dengan Taki bukan karena Mitsuha memiliki 'kemampuan' itu. Ia tak mampu mengontrolnya—maka tak bisa disebut sebagai sebuah 'kemampuan'. Ia hanya mendapatkan 'kesempatan' itu karena ia berasal dari keluarga Miyamizu, yang di mana setiap leluhurnya (termasuk ibunya) selalu mengalami pertukaran tubuh itu. Mitsuha sebagai yang termasuk keturunan terakhir—disebut terakhir karena pada kehidupan sebelumnya mati bersama adiknya—memiliki kesempatan kedua untuk mempertebal sketsa yang berasal dari leluhurnya. Beruntung ia bertemu Taki yang mampu membantunya untuk membuat sketsa itu menjadi sebuah pemandangan yang lebih indah. Tapi itu bukanlah sebuah keberuntungan semata. Ada sebuah tindakan ekstra yang dilakukan Mitsuha agar sketsa dari leluhurnya tampak di kanvas.

Karl Jaspers mengatakan bahwa Eksistensi itu bukan 'ada', tapi 'bisa ada' dan 'seharusnya ada'. Seperti sebuah sketsa dari leluhur, keberadaannya itu bukan 'ada', tapi 'bisa ada', dan 'seharusnya ada'. Artinya Eksistensi itu bukan sesuatu yang langsung "ada", tapi sesuatu yang harus diperjuangkan—yang kata Jasper: melalui pilihan hidup manusia.

Secara tidak langsung manusia dituntut harus peka dalam membaca berbagai situasi, baik situasi dalam dirinya (batin) maupun situasi yang ada di sekitarnya (fisik). Karena pertemuan keduanya sangat penting untuk memperjelas Eksistensi atau sketsa leluhur mereka.


Aku

Akhir-akhir ini aku menaruh curiga pada kepribadianku sendiri, dan mulai mencari pengertian 'aku' secara radikal. Rasanya kesialan selalu menerjang jalanku. Beruntungnya aku mampu merespon 'kesialan' itu dengan—berusaha—bijaksana. Tapi entah bagaimana, kesulitan selalu saja hadir sejak aku lahir. Sangat sulit jika hanya diterima tanpa mempertanyakan alasannya.


Ujian

Asap hitam mengepul tebal di langit-langit Surakarta. Kawasan Asia sedang mengalami masa krisis moneter, dan masyarakat dipenuhi amarah yang tak mampu dibendung. Saat itu Mama masih mengandungku—masuk trimester ketiga. Kehidupan saat itu sedang tak begitu baik untuk semua orang. Apakah karena aku akan dilahirkan? Pertanyaan yang sangat percaya diri, seolah-olah aku pusat dunia.

Pada kehidupan sekolah menengah pertama aku masuk di sekolah yang bertaraf internasional. Tiap pelajaran selalu menggunakan bahasa Inggris. Ujian semester pun harus dua kali: nasional dan internasional. Namun dipenghujung kelulusan, Pemerintah menghapus program taraf internasional itu. Alhasil ijazah yang kudapat tak bertaraf internasional, meskipun aku sudah bersusah payah—dengan mati-matian—menghabiskan masa-masa itu.

Pada kehidupan sekolah menengah atas, lagi-lagi Pemerintah menerapkan sebuah kebijakan yang berbeda dari angkatan sebelumnya. Ujian nasional kali ini tak menggunakan pensil sebagaimana angkatan tahun lalu, melainkan menggunakan komputer. Alasannya untuk meminimalisir kecurangan. Tapi karena keterbatasan komputer, pelaksanaan ujian tak dilakukan secara serentak. Sekolah menerapkan 3 shift dalam sehari untuk satu mata pelajaran yang sama, yakni: shift pagi, siang, dan sore. Bagiku ini sesuatu yang merepotkan, karena selalu dituntut harus adaptif pada setiap kurikulum yang berbeda.

Tak berhenti di situ, menjelang akhir semester pada masa perguruan tinggi, terjadi sebuah wabah mengerikan yang secara radikal merubah kebiasaan masyarakat. Lock down, vaksinasi, rapid test, dan swab pcr sangat merepotkan bagi mahasiswa akhir yang hendak melakukan penelitian. Rencana tak berjalan semestinya, dan segalanya menjadi berantakan. Aku pun bertanya-tanya, apa artinya hambatan-hambatan ini? Tak mungkin kalau hanya sebuah fenomena.

Pasca wabah, kebiasaanku membaca buku meningkat, rasa penasaran tak pernah habis. Salah satu persoalan yang kubaca adalah persoalan Eksistensi. Karl Jaspers mencoba menuntunku menemukan 'aku' yang lebih kompleks. Jika kupadukan apa yang kualami dengan apa yang kupahami, mungkin setiap hambatan tadi bukanlah sekadar ujian, melainkan pemantik agar aku menemukan bentuk ‘aku’ yang lebih kompleks. Jika Mitsuha membutuhkan Taki, mungkin aku pun butuh 'hambatan-hambatan' itu untuk membuat sketsa leluhurku tampak lebih jelas—dan mendekatkan aku dengan 'yang seharusnya aku'. Kini tergantung bagaimana aku merespon hambatan-hambatan itu.


Hipotesa

Ada sebuah konklusi ekstrem yang pernah muncul di dalam pikiranku. Apakah mungkin kesialan yang selalu menghantuiku ini adalah sebuah karma yang berasal dari leluhurku. Misalnya ada sebuah dosa fatal yang dilakukan oleh leluhurku, yang kemudian karma akan dosa itu selalu diwariskan pada keturunan selanjutnya—seperti sebuah bom waktu yang tak pernah melegakan dan selalu dilanda rasa kekhawatiran. Sampailah karma itu kepadaku, dan karma itu harus meledak sekarang. Mengapa? Karena Tuhan, dengan segala Kemahatahuan-Nya, tahu orang yang paling kuat diantara segala keturunan leluhurku—yang mampu merespon ledakan ini dengan bijak—adalah aku. Sehingga aku seperti messias bagi leluhur dan keturunan-keturunanku.

Peranku adalah menyelamatkan keturunanku, agar rahmat-Nya selalu mengiringi mereka. Peranku adalah menghapus karma leluhurku, agar mereka tenang di alam kubur, dan tak khawatir lagi akan dosa yang selalu membelenggu hidup mereka—karena dosa itu sudah meledak padaku. Seperti Mitsuha yang berhasil menyelamatkan seluruh warga Itomori, aku pun harus berhasil menyelamatkan leluhur dan keturunanku.

Aku tak merasa terbebani jika hipotesa itu nyata. Karena—entah bagaimana—Tuhan selalu memberikan ketenangan yang luar biasa hebat kepadaku untuk menghadapi sesuatu yang tak sesuai dengan rencana. Tuhan juga memberiku penglihatan sudut pandang yang berbeda-beda setiap makhluk-Nya, sehingga aku kaya akan simpati maupun empati. Seperti Mitsuha yang dapat bertukar tubuh, kemampuanku yang dapat melihat sudut pandang orang lain adalah sesuatu yang tak dapat kukuasai dan perlu pemantik agar kemampuan itu aktif. Kemampuan itu sangat kusyukuri, karena kemampuan itu dapat membentuk karakterku menjadi "aku" yang lebih kompleks, yang mendekatkan aku dengan yang "seharusnya aku".


Kesimpulan

Film Kimi no Na wa mengajarkanku bahwa setiap manusia membawa garis tipis dari masa lalu. Garis itu bisa tak muncul, tapi juga bisa 'eksis', tergantung pilihan yang manusia ambil hari ini. Mungkin inilah arti Eksistensi: berani membaca tanda-tanda, lalu membuat sketsa batin menjadi sebuah lukisan yang utuh. Maka kuucapkan terima kasih kepada leluhurku, karena menurunkan kemampuan membaca dan melihat sudut pandang yang berbeda-beda kepadaku. Tunggulah sebentar lagi, karena sketsa ini akan menjadi lukisan yang paling indah. Kuharap kalian menyukai lukisan batinku.


*Sumber thumbnail postingan ini: www.gwigwi.com.

Komentar