Akhir-akhir ini penilaianku terhadap perempuan sama, mereka semua cantik dan manis. Lucu dan pandai berias. Pipi mereka merah merona. Bibir mereka selalu lembab. Bulu mata mereka lentik. Mereka ahli berpakaian dan selalu terlihat serasi di tubuh mereka. Jika disuruh menilai—membandingkan mereka satu dengan yang lainnya—aku tak bisa. Aku payah dalam hal itu. Kalau ada yang bertanya "apakah dia cantik?", selalu kujawab "ya, mereka adalah perempuan, tentunya cantik." Tak ada hal spesifik yang bisa kugambarkan mengenai kecantikan mereka. Alasan inilah kenapa aku masih belum mau berpacaran. Bukan karena aku tak menyukai kecantikan mereka. Justru karena aku menyukainya, aku tak memetiknya. Kubiarkan kecantikan itu tumbuh di taman. Dan orang-orang dapat menikmatinya—kecuali satu orang—Anggi. Sikap itu tak berlaku padanya.
Kecantikan Anggi berbeda dengan perempuan lain. Tak bisa kudefinisikan perasaan kagum itu dengan kata-kata. Satu-satunya rasa yang bisa kudefinisikan adalah hasrat ingin memilikinya. Bukan karena aku ingin kecantikannya hanya untukku seorang. Justru aku ingin semua orang di dunia ini melihat kecantikannya. Tapi dengan tangannya yang menggenggam tanganku. Betul, aku ingin menyombongkan diriku yang dipilih oleh bidadari secantik dia. Betapa beruntungnya aku. Betapa irinya pria-pria di luar sana.
*
Aku bermimpi diriku sedang mengenakan celana kain panjang berwarna hitam. Dengan atasan kemeja putih berlengan panjang berkancing hitam. Sneaker putih sebagai alas kakiku. Menemani sandal selop coklat nude¹ Anggi.
Anggi mengenakan atasan berwarna hitam. Lalu, dibalut dengan rok wrap aria berwarna green sage². Ia mengenakan kalung silver tipis dengan satu aksesoris kecil seperti berlian sebagai pemberat. Kalung itu ia tampakkan di luar bajunya. Serasi dengan antingnya, yang juga berbentuk bulat kecil dan seperti berlian. Rambut Anggi panjang, melebihi bahu, hitam berkilauan dan lurus dengan gaya middle part ala Korean, tanpa ada poni. Bibir Anggi mengenakan lipstick berwarna merah persian³. Ia membawa tas selempang berbentuk persegi panjang berwarna hitam dengan rantai kecil.
Kami berjalan serasi mengelilingi isi museum, memandangi lukisan-lukisan, dan mempelajari arca-arca. Aku memang menyukai sejarah, tapi juga menyukai Anggi. Untuk sekarang kuabaikan sejarah. Prioritasku adalah Anggi. Kupandangi dirinya, mencuri kesempatan memotretnya, dan membuat kenangan sebanyak mungkin. Aku bisa ke tempat ini kapanpun aku mau. Tapi bersama Anggi adalah kesempatan yang mungkin takkan terjadi dua kali. Dia sangat cantik. Karya seni yang paling indah di dunia.
¹#d8a272²#48513c³#CA3433
Setelah berkeliling di museum, kami berkunjung ke pertunjukkan aquascape atas dasar permintaan Anggi. Dia penasaran dengan aquarium yang ukurannya tidak seberapa besar itu, namun bisa ditumbuhi tanaman dan hidup bertahun-tahun di dalamnya. "Kok bisa sih?" tanyanya. Di dalam perjalanan kujelaskan sesingkat mungkin agar mudah dipahami Anggi.
Ketika sampai di lokasi, dia menanyakan pertanyaan yang sama, "kok bisa sih tanaman tumbuh di dalam sini?" tapi kali ini dengan ekspresi kagum. Dia sibuk memandangi salah satu aquascape yang di atasnya terdapat piala berbentuk angka satu. Aku pun ikut memandang aquascape itu dengan cara yang sama seperti Anggi. Kepala kami tepat berada di depan aquarium. Dia melihatnya dengan sangat dekat. Aku pun juga melakukan hal yang sama, namun Anggi lah yang kupandangi. Matanya berbinar-binar. Wajahnya jadi tampak lebih kentara karena cahaya lampu dari aquascape yang ikut menyinarinya. Tinggi meja aquarium hanya sepinggang, sehingga kami perlu membungkuk untuk melihatnya dari dekat. Rambut Anggi roboh ke bawah, membuatnya agak risih. Lalu ia selipkan rambut yang mengganggu itu ke belakang telinga, membuat pipinya terlihat lebih jelas. "Imutnya", kataku di dalam hati. Sisi gemas Anggi membuatku secara spontan menyubit pipinya.
"Kan tadi udah kujelasin!" keluhku sembari mencubit pipi Anggi.
"Aduh! Kaget tau," dipukulah bahuku.
"Nggak dengerin ya?"
"Tadi dengerin! Tapi susah bayanginnya."
"Terus, kenapa pas aku jelasin tadi kamu kasih afirmasi 'oh gitu', 'ahh, I see'?"
"Seru aja dengerin kamu, hehe. Jelasin lagi dong, selagi ada aquascapenya." rengek Anggi.
Aku menepuk keningnya sebagai peringatan agar dia memperhatikan apa yang akan kujelaskan. Anggi meringis kesal, ia cubit lenganku sebagai balasan. Aku mulai dengan penjelasan teknik dasar pembuatan aquascape. Aku peragakan sesimpel mungkin agar Anggi benar-benar mengerti. Anggi sering merespon penjelasanku dengan beberapa pertanyaan, menandakan bahwa kali ini dia serius memperhatikan. Dia juga bertanya tentang alasan kenapa aquascape yang ada di depan kami bisa menjadi juara. Apakah karena tanaman di dalam aquascape ini tumbuh lebih cepat dari aquascape lainnya. Aku jelaskan kepadanya bahwa teknik penilaian kontes aquascape di pertunjukkan ini bukan hanya tentang menanam saja, tapi tentang seni yang unik dan teknik peniruan alam yang rasional. Aku juga jelaskan sedikit tentang alasan kenapa aquascape di depan kami bisa menjadi nomor satu, dengan membandingkan aquascape lainnya. Anggi tertawa kecil mendengarnya.
"Kenapa?" tanyaku menanggapi tawa Anggi.
"Hehe, nggakpapa. Seru aja dengerin kamu fasih jelasin. Jadi mau nanya."
"Apa?"
"What do u think about me?"
Sebuah pertanyaan jebakan.
Jika aku menjawab secara asal-asalan, Anggi bisa bad mood seharian. Anggi tahu, aku payah menilai kecantikan perempuan. Anggi juga tahu bahwa aku selalu memandang semua perempuan itu cantik. Seperti aquascape di hadapan kami, dia ingin sebuah afirmasi yang tak jauh berbeda dengan piala angka satu di atasnya. Dia menuntut penjelasan rasional tentang apa yang membedakan dia dengan perempuan-perempuan lain, sebagaimana aku fasih menjelaskan kenapa aquascape di depan kami bisa menjadi juara pertama ketimbang aquascape lainnya.
"About u, ya?" tanyaku.
Anggi mengangguk, menunggu jawaban. Kami berhadap-hadapan satu sama lain. Sehingga aku bisa melihat seluruh tubuhnya. Waktu berjalan lambat. Entah kenapa Anggi tampak semakin cantik. Berbeda dengan ketika kami berada di museum. Rambut yang ia selipkan ke belakang telinga menambah keseksiannya. Kalung, anting, make up dan pakaiannya tampak serasi dengan tubuhnya. "Cantik banget", pujiku di dalam hati. Tatapannya menggodaku. Tanpa sadar tangan kiriku memegang dagunya. Menariknya ke arah wajahku dan kucium bibirnya.
Dunia seperti berhenti berputar. Darah dalam diriku bergejolak kencang. Aroma tubuh Anggi sangat terasa—wangi dan manis. Bibirnya lembut. Aku tak bisa berhenti mencium bibir itu. Aku tak ingin kehilangan kelembutannya.
*
"Maaf. Ngga bisa jelasin pake kata-kata." ucapku.
Anggi mengangguk manja, masih malu karena kami berciuman di tempat umum. Kugenggam tangannya, memandunya keluar dari tempat ini. Di pertengahan jalan dia menarik genggamanku, membuat tubuhku sedikit ambruk ke kiri. Anggi berjinjit, berusaha meraih wajahku. Ia mencium pipiku. Jantungku berdetak begitu hebat. Darah mengalir deras, menyebar ke seluruh tubuh. Tak bisa kukendalikan pikiranku. Begitu juga dengan Anggi. Tanpa sadar, kami berciuman lagi.
*
Menjelang sore, aku tak berencana mengajak Anggi ke pantai. Namun, ide sunset with kiss secara spontan muncul di kepalaku.
Kami melepas alas kaki dan berjalan ke arah ombak. Pasir dan angin berusaha menghambat langkah kami, sehingga genggaman Anggi menjadi erat. Tak lama kemudian terdengar suara adzan menggema dari tepi pantai. Mulanya kupikir suara adzan maghrib. Rupanya suara adzan subuh. Sontak kuterbangun. Lagi-lagi hanya mimpi. Dan mimpi yang sama seperti beberapa hari terakhir. Tapi ciuman kali ini terasa nyata, terutama ciuman di pipi. Lantas kusentuh pipiku. Kurasakan basah ada pada tanganku. Kuendus aromanya. Rupanya air liurku tumpah di atas bantal dan mengenai pipi kiriku.
Kuambil smartphone di meja dekat kepalaku. Kuraih dengan malas. Sudah sebelas hari tak ada balasan dari Anggi. Pesan terakhirnya adalah ucapan selamat ulang tahun untukku dan ajakan pergi melihat bulan di tepi pantai.
*
Kukenakan celana kain berukuran panjang berwarna hitam dan kemeja berlengan pendek berwarna hitam. Setelah subuh, aku berangkat menuju rumah Anggi. Langit tampak mendung. Entah musim penghujan akan tiba. Atau langit sedang menyambut Anggi. Kosong sekali perasaan ini. Masih tak terima jika kenyataannya Anggi tak bisa kumiliki. Anggi yang cantiknya melebihi siapapun, dan aku tak bisa memetiknya. Kurelakan kecantikan itu tumbuh di taman-Nya.
Setelah sebelas hari terbaring sakit, kini dan seterusnya takkan ada lagi fisik Anggi. Dia sepenuhnya milik-Nya. Anggi segera dikebumikan. Seluruh tubuhnya dibalut kain putih, seperti putri salju yang sedang tertidur lelap. Kuharap di bawah sana Anggi memimpikan hal yang sama sepertiku semalam—menostalgiakan kenangan kami.
Sedikit lagi sunset with kiss dan kami resmi berpacaran, tapi adzan subuh membangunkanku. Sedikit lagi kami akan menikah, tapi Tuhan lebih mencintainya. Sedikit lagi ya, Anggi.
Lukisan dari Juturne (Instagram: @juturrne)